Jaman Dulu – Jaman Sekarang

“Respect is earned, not given”
Sebuah peribahasa yang sangat tepat untuk orang-orang yang menuntut sebuah kehormatan dan penghargaan dari orang lain.

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang mengeluhkan mengenai tingkah laku anak-anak jaman sekarang yang sudah kurang sopan kepada orang yang lebih tua/senior/guru,dll. Lebih parahnya lagi adalah, yang dia lakukan adalah mengeluh di media sosial. Lalu timbul pertanyaan di benak saya, “Apakah anda sudah menjadi orang yang pantas untuk mendapatkan ‘respect’ tersebut?”

Sebelum mengatakan hal-hal yang bertema sensitif seperti membandingkan orang-orang jaman dulu dengan orang-orang jaman sekarang, alangkah baiknya bila kita dapat berkaca terlebih dahulu sebelum pernyataan-pernyataan kita menjadi ‘bumerang’ untuk kita sendiri.
1. Apakah hal yang dikatakan itu penting?
2. Apakah hal yang dikatakan berguna?
3. Apakah hal yang dikatakan sudah dilakukan juga oleh diri sendiri?
4. Apakah hal dikatakan akan menyakiti pihak tertentu?
5. Apakah saya orang yang pantas dihormati?
(6. Orang yang pantas dihormati, biasanya tidak perlu mengemis penghormatan dari orang lain)

Betul bila dikatakan anak-anak sekarang lebih ‘berani’ terhadap orang-orang yang lebih tua. Namun tidak bisa dikatakan bahwa mereka itu kurang ajar dan tidak sopan bila dibandingkan anak-anak jaman dulu. Anak-anak sekarang sudah dididik dengan pendekatan yang berbeda. Tentu saja tidak bisa disamakan dengan didikan keras orang tua jaman dulu yang masih terbawa dari jaman Penjajahan. Anak-anak sekarang sudah dapat mengenali sendiri yang mana yang baik dan buruk untuk mereka, mereka hanya perlu diarahkan.

Terkadang saya lelah mendengar bagaimana orang jaman dulu selalu membandingkan bagaimana mereka dulu hidup sangat susah dan mendengar ribuan keluh kesah mereka mengenai pahitnya hidup, betapa di jaman mereka lebih baik daripada jaman sekarang.

Setiap jaman ada ceritanya sendiri. Jangan memaksakan anak-anak melakukan hal-hal kolot yang dilakukan pada jamanmu, dan ingatlah, sekarang sudah tahun 2016.

*Pendapat pribadi*

Please, Sorry, Thankyou

Semakin hari, umur kita semakin bertambah. Begitu juga dengan umur saya yang semakin lama semakin tua. Semakin banyak saya belajar tentang hidup, tentang manusia, tentang cara kita menyesuaikan diri di lingkungan tempat kita tinggal, dan lain-lain.

Dari situ saya belajar bagaimana saya bertemu dengan berbagai jenis sifat yang tidak dapat ditebak, dan hanya bisa menggelengkan kepala setiap kali melihat seseorang melakukan sesuatu yang aneh/tidak baik (Dari sudut pandang saya)

Ada 1 hal yang selalu diajarkan kepada kita semenjak kita masih sangat kecil. 1 hal ini adalah bagaimana mengucapkan kata “Tolong/Please”, “Maaf/Sorry”, dan “Terima Kasih/Thankyou”. Tiga buah kata yang sepertinya sangat tidak seberapa tapi sangat besar pengaruhnya.

 

  1. TOLONG (PLEASE)

please-blog

“Ambilin pulpen disitu dong!”

“Matikan lampu kamar!”

“Tutup pintu!”

dan masih banyak contoh lain yang terkadang bikin kuping saya panas dengan orang-orang semacam ini. Kita tinggal di negara yang diajarkan sopan santun dan norma sejak kecil. Meminta seseorang melakukan sesuatu itu juga ada tata kramanya. Bahkan menyuruh orang dengan status lebih rendah (dalam sebuah struktur organisasi) juga tidak boleh sembarangan.

 

2. MAAF (SORRY)

sorry-blog

Pernah ada orang mengatakan “Apologizing does not always mean you are wrong and the other person is right, it just means that you value your relationship more than your ego”.

Saya sangat setuju dengan kutipan tersebut dan saya sangat sering mengalami kejadian yang membuat saya tersadar dengan kutipan itu. Sebagai contoh, apabila kita janjian dengan seseorang, katakanlah jam 12 siang dan datang terlalu cepat, lalu teman yang kita ajak janjian telat beberapa menit, hal yang wajar apabila kita menegur mereka. tapi seringkali ada tipe orang yang justru bilang, “Siapa suruh lu datang kecepetan, Jakarta kan emang macet dimana-mana”.

sangat sering kita bertemu orang macam ini, dan berpikir, sesusah itukah mengucapkan, “Maaf, saya terlambat”.

3. TERIMA KASIH (THANKYOU)

Thank-you-blog

sejak kecil, ini yang paling pertama diajarkan oleh orang tua kita. Saat kita diberi permen oleh orang lain, orang tua kita pasti ‘celetuk’, “Hayo, bilang apa ke om/tante?”.

Semakin tua, semakin sedikit orang yang sadar akan kebiasaan ini. Mungkin beberapa orang akan bilang, “Sebenernya rela bantu ga sih?” apabila kita menyindir atau memberi nasihat tentang pentingnya berterima kasih.

Tulisan ini bukan untuk mengatakan bahwa saya sudah benar-benar menjalankan untuk mengatakan ketiga hal tersebut diatas secara baik. Saya juga terkadang sering lupa dan mungkin secara tidak sadar tidak memperhatikan hal yang saya tulis. namun, apa yang ingin dikatakan adalah, sebaiknya kita sebagai mahkluk sosial, khususnya di Indonesia, lebih memperhatikan hal kecil semacam ini.

“People make mistakes, nobody’s perfect”

 

Christmas Dinner, kenapa tidak?

Christmas Dinner menjadi semacam tren di kalangan anak muda sejak 2-3 tahun belakangan. Menjadi kepuasan tersendiri bagi remaja bahkan anak-anak jaman sekarang melakukan tradisi yang biasa hanya dilakukan di rumah bersama keluarga besar, beberapa anak di kisaran umur 20 berkumpul di restoran yang dapat dikatakan elit dan mempunyai harga makanan cukup mahal berkumpul untuk makan malam bersama dalam rangka merayakan natal. Mungkin menjadi sarana bertemu juga untuk temu kangen dan reuni, namun tidak sedikit juga anak-anak SMP atau awal SMA sudah mulai melaksanakan “ritual” semacam ini demi tuntutan gaya hidup.

Saya sendiri mulai melaksanakan Christmas Dinner sejak tahun lalu. Ketika pertama kali melaksanakannya, saya merasa, “OK, kegiatan semacam ini berguna juga sesekali dilakukan.” Kenapa? Kesibukan yang dilakukan setiap harinya membuat kami jarang bertemu, dan event seperti ini memberi kami kesempatan untuk saling bercerita dan bertukar pikiran tentang apa yang kami kerjakan selama ini. Maka itu, saya berpikir kegiatan ini aneh apabila dilakukan oleh anak-anak yang masih diumur sekolah yang notabene masih bertemu dengan teman-teman yang kurang lebih sama setiap harinya.

Saya dan teman-teman melaksanakan Christmas Dinner tahun ini di GIA restaurant yang terletak di Sampoerna Strategic Square Building di kawasan Sudirman, Jakarta. Pertama kali turun dari kendaraan, aura elit dari restoran ini begitu terasa, benar-benar aura dari restoran fine dining. Kesan mewah dan penerangan yang tidak terlalu terang membawa kesan elegan. Kami masuk, dan dipersilahkan untuk duduk di meja yang sudah tertata rapi dengan dining set yang cukup lengkap. Oh iya, apabila ingin makan disini, harus melakukan reservasi terlebih dahulu.

sourcegoogle

sumber : jktgo.com

Tidak lama, kami langsung dihidangkan dengan welcome snack. Setelah itu, kami langsung order makanan dan minuman. Menu disini terbilang sedikit untuk makanan, dan untuk cukup banyak untuk minuman, mulai dari mineral water sampai dengan wine yang harganya cukup membuat saya mengelus dada.

WELCOME BREAD

sumber : zomato.com

Saya memesan Fettuccine Salsiccia E Finochietto, fettucini yang dihidangkan dengan roman style sausage, portobello mushrooms dan egg cream sauce dan untuk minuman, saya memesan mocktail yang mereka beri nama Dancing elf.

Makanan datang, kami tidak sabar untuk langsung mencicipinya, maka dari itu saya sampai tidak sempat untuk foto-foto makanan saya, dan makanan disini sangat OK. Mungkin tidak cocok untuk beberapa “lidah” orang Indonesia yang selalu disajikan dengan makanan yang penuh bumbu dan rempah sehingga makanan di restoran ini terkesan hambar dan tidak berbumbu. Tapi saya sangat suka makanan disini, sangat creamy, dan dengan porsi yang tidak terlalu besar, saya sudah cukup kenyang. Saya juga mencicipi pork belly yang dipesan oleh teman saya, dan YUM! Benar-benar sangat nikmat. Dagingnya sangat juicy dan sangat garing pada kulitnya.

PORK BELLY

THE AMBIENCE

Benar-benar pengalaman yang menyenangkan makan di tempat ini. Good ambience, good food, good service. Sure will come here again for another dinner.

Beberapa tips datang kesini :

  1. Dress well, tentu saja kalian tidak mau waiter disini terlihat lebih menarik dari kalian, bukan?
  2. Datang di malam hari, suasana disini sangat cocok untuk makan malam romantis, ditambah dengan iringan musik klasik. Trust me.
  3. Kalian bisa googling menu lainnya, karena bagi yang jarang makan di restoran fine dining, harga disini terbilang tinggi, belum termasuk tax dan service charge, so, prepare your money guys. Ada harga, ada kualitas.

in the end, i would like to say, MERRY CHRISTMAS & HAPPY NEW YEAR!

1